Ditangan Vanda, Koran Bekas Hingga Dedaunan Disulap Jadi Barang Bernilai Jual Tinggi | Jawa Barat Uri.co.id

Jawa Barat Uri.co.id

Menu

Ditangan Vanda, Koran Bekas Hingga Dedaunan Disulap Jadi Barang Bernilai Jual Tinggi

  • Reporter:
  • Kamis, September 28, 2017
Ditangan Vanda, Koran Bekas Hingga Dedaunan Disulap Jadi Barang Bernilai Jual Tinggi
Foto Ditangan Vanda, Koran Bekas Hingga Dedaunan Disulap Jadi Barang Bernilai Jual Tinggi

URI.co.id, BANDUNG –  Apa yang Anda lakukan ketika kertas koran bekas, gelas minuman kemasan, dan dedaunan, teronggok di depan mata? Limbah-limbah ini kemungkinan besar masuk ke tong sampah.

Namun, tidak demikian dengan Vanda Amesiana. Pemilik Giva Arts Craft ini mendaur ulang limbah-limbah tersebut menjadi barang-barang seperti jam dinding, kalung, tas, kotak perhiasan, dan buku catatan.

Aktivitas daur ulang limbah ini sudah dilakukan Vanda sejak 2007. Berbekal ilmu yang didapatnya semasa kuliah di jurusan Kimia, ia mampu membuat berbagai produk yang bukan saja unik, tapi juga bernilai jual.

Baca: Ini Kata Haji Supardi Nasir tentang Persiba yang Berada di Papan Bawah Klasemen Liga 1

“Awalnya saya cuma buat hiasan kulkas dari kain goni. Karena sulit cari kerja, saya buat usaha sendiri,” ujar Vanda saat ditemui di stan Giva Arts Craft di Braga City Walk Bandung, belum lama ini.

Kertas koran dikreasikannya menjadi kalung dan jam dinding berbentuk bunga. Meski dibuat dari bahan yang mudah rusak seperti koran, kalung dan jam dinding, produk Giva Arts Craft diolah menggunakan bahan kimia sehingga menjadi bahan padat layaknya kayu.

Teknik yang ia gunakan dinamakan paper quilling. Kertas yang digulung-gulung sebesar uang koin disusun membentuk bunga, kemudian diberi cat pernis tanpa menghilangkan penampakan korannya. Mesin yang ia gunakan adalah mesin jam biasa.  Dalam sehari, Vanda bisa membuat tiga buah jam dinding.

Tak hanya koran, Giva Arts Craft pun memproduksi tas wanita dari lingkaran gelas minuman kemasan bagian atas. Limbah plastik ini dilapisi kain pita beragam warna. Sekilas, tas produksi Giva Arts Craft tampak seperti tas-tas pada umumnya yang biasa ditemui di toko-toko. Setelah dilihat lebih dekat, ternyata tas tersebut terbuat dari bahan plastik padat yang dirangkai cantik.

Giva Arts Craft juga memiliki koleksi tas yang terbuat dari pelepah pisang. Pelepah pisang yang telah dipadatkan menggunakan bahan kimia dipadukan dengan selang yang dilapisi kain. Selang ini dibuat untuk pegangan tas. Tas pun dikombinasikan dengan bahan lainnya seperti kulit sintetis. Namun, pelepah pisang sebagai ciri khas tas di sini tetap jadi bahan yang paling dominan.

Tas dari pelepah pisang

Tas dari pelepah pisang (URI.co.idjabar/Ditangan Vanda, Koran Bekas Hingga Dedaunan Disulap Jadi Barang Bernilai Jual Tinggi)

Dedaunan pun tak luput digarapnya menjadi kotak perhiasan, sampul buku catatan, kipas, dan pembatas buku. Untuk keempat barang tersebut, Vanda menggunakan beragam daun di antaranya daun sirsak, mahoni, dan karet. Seperti barang-barang sebelumnya, keempat barang tersebut bisa terbentuk dari campuran bahan kimia yang membuat kumpulan daun menjadi padat.

Kotak perhiasan dibentuk layaknya peti mini. Buku catatan pun masih bernansa alam, yakni bagian sampul yang dibuat dari daun. Sedangkan kipas dan pembatas buku murni dari daun yang melalui proses kimiawi yang cukup lama.

“Untuk daun saya rendam menggunakan tanah liat selama satu bulan. Tanah liat tidak boleh kering setiap harinya. Sampai daun transparan, dicuci lagi lalu direndam H2O2 terus direbus pakai pewarna,” terangnya.

Daun pada kipas dan pembatas buku terlihat cukup keras, tapi tak mudah rontok.

“Kebetulan suami kerja di alat pengolahan limbah. Saya juga sudah kerjasama dengan teman yang juga bikin barang daur ulang,” katanya.

Secara total, Vanda telah membuat sekitar 100 produk daur ulang. Di antara banyak produk karyanya, kalung dan pembatas buku menjadi yang paling laris terjual. 

Produk Giva Arts Craft mendapat banyak apresiasi. Selain Bandung, Vanda telah menerima pesanan dari berbagai tempat seperti Jakarta, Aceh, hingga Papua.

“Apa saja limbah yang ada di rumah saya pakai untuk buat sesuatu,” katanya.

Vanda mengaku, banyak yang tertarik dengan produk uniknya. Namun, ia masih belum bisa memenuhi semua permintaan tersebut lantaran modalnya yang terbatas.

“Masalahnya saya belum bisa produksi banyak karena SDM-nya masih kurang. Saya masih belum tahu caranya mengajukan bantuan ke perusahaan-perusahaan besar,” katanya.

“Ke depannya saya akan terus konsisten buat daur ulang. Untuk pelepah pisang pernah ditawarkan dijual di Abu Dhabi, tapi belum ke sana karena masalahnya di modal,” katanya.

Sebagian besar produk Giva Arts Craft terbuat dari plastik limbah. Ini dilakukannya untuk mengurangi sampah plastik, setidaknya di rumahnya.

“Ivan Gunawan sudah kasih apresiasi. Kalau kolaborasi inginnya saya tetap ada daur ulangnya,”  katanya.

Produk GIva Arts Craft dipatok mulai Rp 5 ribu hingga Rp 280 ribu.

Giva Arts Craft bisa dikunjungi di Jalan Cikutra Komplek Citra Green Garden No 20 Bandung. Selain itu, koleksi Giva Arts Craft bisa dilihat di Facebook Giva Arts Craft dan website givacollection.wordpress.com.  (uri/uratman/S)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Jawa Barat Uri.co.id